Dari Iman ke Aksi, Dunia Berbagi Asa

Setiap donasi adalah doa yang bekerja. Mari bergerak bersama menjaga bumi, menolong sesama, dan menumbuhkan harapan. Karena iman sejati bukan hanya dirasakan-tapi diwujudkan dalam aksi.

Bendera biru putih yang teriak paling kencang di X kadang bukan dari Tel Aviv, tapi dari kamar kos di New Delhi.

Di balik jilbab dua ribuan, ada cerita tentang lapangan usaha yang makin miring dan kampung yang pelan-pelan kehabisan napas.

Thrifting sering dijual sebagai gaya hidup hijau. Tapi ketika kontainer baju bekas impor ikut masuk, kita masih bicara solusi, atau cuma ganti wajah masalah?

Kita begitu sibuk mengejar surga, sampai lupa belajar agama dan moral sosial.

Dari kehampaan muncul cahaya, dari kekosongan lahir keteraturan. Big Bang bukan kebetulan, melainkan kesaksian paling senyap tentang awal segala sesuatu.

Ledakan dahsyat pernah memecah keheningan kosmos. Namun entah bagaimana, dari kekacauan itu lahir keseimbangan yang nyaris sempurna.

Kadang perbedaan bukan soal iman, tapi soal lidah manusia yang menafsirkan surga dengan bahasa masing-masing.

Agama lokal Indonesia perlahan hilang, bukan karena kalah dalam keyakinan, tapi karena disingkirkan dari ingatan kolektif bangsa sendiri.

Kita sering mengira hijab lahir dari ajaran agama. Tapi sejarah ternyata lebih tua dari iman—dan kadang, iman justru belajar dari budaya.

Islam tumbuh karena mau belajar, bukan karena menutup diri. Tapi kini, lewat fatwa yang salah arah, sebagian ulama justru lupa bahwa iman yang kuat tak pernah takut pada perbedaan.

Zionisme bukan sekadar politik, ia adalah ideologi kekuasaan yang menukar iman dengan kekerasan, dan menjadikan kemanusiaan sebagai korban.

Nama “Indonesia” bukan sekadar sebutan geografis. Ia lahir dari pergulatan sejarah, pencarian identitas, dan keberanian menamai diri di antara dua samudra dan dua benua.

Kadang, revolusi pendidikan nggak butuh kurikulum baru — cukup dari sepiring makan siang bergizi di sekolah.

Generasi Beta lahir di tengah perubahan besar — antara optimisme teknologi dan kegelisahan sosial. Mereka adalah cermin masa depan bangsa yang sedang mencari arah.

Gunung bukan tempat untuk menaklukkan, tapi untuk dipahami. Dan perlengkapanmu adalah cara paling sederhana untuk menghormatinya.

Dari simbol ibadah menjadi lambang nasionalisme, peci membawa cerita panjang tentang identitas dan keberanian menjadi Indonesia.

- Advertisement -
author avatar
Rully Syumanda
Arsitek, Penggiat Lingkungan dan Ayah dari tiga orang putri. Tidak terlalu relijius namun selalu berusaha berbuat baik dan percaya bahwa gagasan besar sering lahir dari percakapan kecil. Melalui laman ini, saya ingin berbagi cara pandang — bukan untuk menggurui, tapi untuk membuka ruang dialog. Tentang iman yang membumi, demokrasi yang manusiawi, dan kemakmuran yang tidak meninggalkan siapa pun.